abis baca2 karyanya Mas Hirata yang sangat fenomenal di Indonesia, kayaknya gw pengen coba ngasih sedikit ringkasan cerita (yang cukup panjang)...mana tau ada yang perlu...ya ga...
What a Wonderful World
Setelah empat puluh tahun bumi pertiwi merdeka akhirnya Belitong Timur, pulau timah yang kaya raya itu, memiliki sebuah SMA Negeri. Pemotongan pita peresmian SMA ini adalah hari bersejarah bagi kami orang melayu pedalaman, karena saat pita itu terkulai putus, terputus pula kami dari masa gelap gulita matematika integral atau tata cara membuat buku tabelaris hitung dagang yang dikhotbahkan di SMA. Tak perlu lagi menempuh 120 kilometer ke Tanjong Pandan hanya untuk tahu ilmu debet kredit itu.
Saat itu aku dan Jimbron sedang duduk penuh gaya di atas sepeda jengkinya yang butut. Sekelompok siswi kelas satu yang juga terlambat nongkrong berderet-deret. Hanya aku dan Jimbron pejantan di sana. Tak membuang tempo, segera kami keluarkan segenap daya pesona untuk menarik perhatian putri-putri kecil semenanjung itu. Aku, sebagai siswa SMA yang cukup kreatif, telah lama memiliki taktik khusus untuk situasi seperti ini. Sayangnya, gadis-gadis kecil itu rupanya telah dikaruniai Sang Maha Pencipta semacam penglihatan yang mampu menembus tulang belulang, sehingga bagi mereka tubuhku transparan. Dan bukannya mendapat simpati, ketika melakukan gerakan mengayun jambul dengan sedikit putaran manis setengah lingkaran, aku malah terperanjat tak alang kepalang karena para siswi di depanku menjerit-jerit histeris.
Tak sempat kusadari, pak Mustar telah berdiri di sampingku. Pak Mustar merenggut kerah bajuku, menyentakku dengan keras hingga seluruh kancing bajuu putus. Hanya seinci dari telingaku, Pak Mustar menampar angin sebab aku merunduk. Aku berbalik, mencuri momentum dengan menumpukkan seluruh tenaga pada tunjangan kaki kanan dan sedetik kemudian aku melesat kabur. Aku berlari kencang menyusuri terali sekolah. Seluruh siswa berhamburan menuju pagar, riuh menyemangatiku karena mereka membenci Pak Mustar. Tenagaku terbakar. Kulirik sejenak jejeran panjang ratusan pagar. Aku melambung tinggi sekali. Wakau gemetar ketakutan tapi aku melesat sambil tersenyum penuh arti. Aku menyebrangi jalan dan berlari memasuki gerbang pasar pagi. Pak Mustar bernafsu menangkapku, jaraknya semakin dekat.
Kejar-kejaran semakin seru saat aku melintasi pelataran dengan pilar-pilar menjulang yang dipenuhi pedagang kaki lima. Aku melesat diantara gerobak sayur dan ratusan pembeli. Pak Mustar dan komplotannya lekat di belakangku. Sebenarnya aku dapat lolos jika tak memedulikan panggilan sial ini, “Ikal!! … Ikal!!”
“Ikal … tolong,kal … Tolong …”
Aku terkesiap, kasihan, dan kesal.
“Biang keladi! Cukup sudah aku dengan tabiatmu, Rai. Lihat! Macan itu akan menerkammu!!”
Melihat sasaran nomplok tiba-tiba muncul di depannya, pak Mustar sumringah dan kembali bernafsu memburu kami. Kami menyelinap, hingga akhirnya di gudang peti es inilah kami terperangkap.
Pak Mustar dan kedua penjaga sekolah mondar-mandir di luar tanpa menyadari kami ada di dalam gudang peti es. Tiba-tiba kami terperanjat karena dentuman knalpot vespa lambretta. Dan kami panik tak dapat menguasai diri. Benar-benar sial berlipat-lipat sebab penunggang vespa itu adalah Nyonya lam Nyet Pho, turunan prajurit Hupo, semacam capo, ketua preman pasar ikan. Ia pemilik gudang ini dan penguasa 16 perahu motor. Kamipun terpaksa masuk ke dalam peti es yang penuh dengan ikan-ikan yang berbau busuk untuk bersembunyi. Nyonya Pho dan pembantunya memasuki gudang. Sekarang delapan orang memikul peti dan peti meluncur menuju pasar pagi yang ramai. Dan tibalah momen yang dramatis itu ketika capo mengangkat tutup peti es dan langsung, saat itu juga, ia menjerit sejadi-jadinya. Kami bertiga bangkit serentak tanpa ekspresi. Nyonya Pho ternganga dan bibirnya bergetar-getar. Kami melenggang tenang dipimpin seorang laki-laki pemimpi yang hebat bukan main. Ketika kami melewati Nyonya Pho, ia terjajar hampir jatuh.
“Ikkhhh … ikkhhh … ikkha … ikan duyung!!!”
Simpai Keramat
Arai adalah orang kebanyakan. Wajah Arai laksana patung muka yang dibuat mahasiswa baru seni kriya yang baru pertama kali menjamah tanah liat, pencet sana melendung sini. Sesungguhnya, aku dan Arai masih bertalian darah. Neneknya adalah adik kandung kakekku dari pihak ibu. Namun sungguh malang nasibnya, waktu ia kelas satu SD, ibunya wafat saat melahirkan adiknya. Lalu Arai tinggal berdua dengan ayahnya. Kepedihan belum mau menjauhi Arai. Menginjak kelas tiga SD, ayahnya juga wafat. Arai menjadi yatim piatu, sebatang kara. Ia kemudian dipungut keluarga kami.
Arai adalah sebatang pohon kara ditengah padang karena hanya tinggal ia sendiri dari satu garis keturunan keluarganya. Orang melayu memberi julukan Simpai Keramat untuk orang terakhir yang tersisa dari suatu klan. Aku tak dapat mengerti anak semuda itu menanggungkan cobaan demikian berat sebagai Simpai Keramat. Ia telah berdamai dengan kepedihan dan siap menantang nasibnya.
“Dunia…!! Sambutlah aku…!! Ini aku, Arai, datang untukmu…!!”
The Lone Ranger
Aku dan Arai ditakdirkan seperti sebatang jarum di atas meja dan magnet di bawahnya. Sejak kecil kami melekat ke sana kemari. Dan seperti kebanyakan anak-anak Melayu miskin di kampung kami yang rata-rata beranjak remaja mulai bekerja mencari uang, Arai-lah yang mengajariku mencari akar banar untuk dijual kepada penjual ikan. Mengingat masa lalunya yang pilu, aku kagum pada kepribadian dan daya hidupnya. Kesedihan hanya tampak padanya ketika ia mengaji Al-Qur’an. Setiap habisa magrib Arai mengaji di bawah temaram lampu minyak dan saat itu seisi rumah kami terdiam.
Karena berkepribadian terbuka, memiliki mentalitas selalu ingin tahu dan terus bertanya, Arai berkembang menjadi anak yang pintar. Ia selalu ingin mencoba sesuatu yang baru.
Biola Nurmi
Sore yang indah. Perkebunan kelapa sawit di kaki gunung sebelah timur kampung kami seperti garis panjang yang membelah matahari. Saat itulah seorang wanita gemuk berjilbab yang matanya bengkak memasuki pekarangan. Wanita malang setengah baya itu Mak Cik Maryamah, datang bersama putrinya dan seperti ibunya, mata mereka bengkak, semuanya habis menangis. Putrinya yang terkecil tertidur pulas dalam dekapannya. Yang tertua, Nurmi yang kurus tinggi kurang gizi itu, baru kelas dua SMP, sama denganku dan Arai, tampak tertekan batinnya. Ia memeluk erat sebuah koper hitam lusuh berisi biola.
Sudah tiga kali Minggu ini Mak Cik datang meminjam beras. Keluarga kami memang miskin tapi Mak Cik lebih tak beruntung. Ibuku memberi isyarat dan Arai melesat ke gudang peregasan. Ia memasukkan beberapa takar beras ke dalam karung, kembali ke pekarangan, memberikan karung beras itu kepada ibuku yang kemudian melungsurkannya kepada Mak Cik.
“Hanya biola ini milik kami yang masih berhargga,” ucapnya pedih.
Nurmi memeluk biolanya kuat-kuat. Air matanya mengalir. Ia tak rela melepaskan biola itu. Ibuku tersenyum memandangi Nurmi.
“Jangan sekali-sekali kau pisahkan Nurmi dari biola ini, Maryamah. Kalau berasmu habis, datang lagi ke sini.”
Mata Arai berkaca-kaca melihat Mak Cik bergandengan tangan dengan ank-anaknya sambil menenteng setengah karung beras. Lalu aku heran melihat ekspresi Arai. Benar saja, tiba-tiba Arai membanting telepon kaleng botan dan menyeretku ke gudang peregasan. Aku semakin tak mengerti waktu Arai bergegas membuka tutup peregasan, mengambil celengan ayam jagonya, dan tanpa ragu menghempaskannya uang logam berserakan di lantai.
Arai terkekeh.
Aku tak tahu apa yang telah merasukiku. Aku juga tak secuil pun tahu apa rencana Arai. Yang kutahu adalah Allah telah menghadiahkan karisma yang begitu kuat pada sang Simpai Keramat ini.
“Kumpulkan semua, Ikal!!” perintahnya bersemangat. “Masukkan ke dalam karung gandum.”
Arai jelas sedang menuju ke pasar. Tak dapat kuduga apa maksudnya. Di depan toko A Siong ia berhenti. Dia turun dari sepeda dan kami memasuki toko yang sesak. Lalu ia menghampiri istri A Siong. Arai menumpahkan isi karung gandum tadi di atas meja kaca.
“Nyah…,” seru Arai pada Nyonya Deborah.
“Terigu 10 kilo, gandum 10 kilo, gula …”
“Rai! Apa-apan ini?!”
Tangkas, Arai menekan jarinya di atas mulutku.
“Sstt!! Diam, Kal.”
“Nyah, jangan lupa minyak …”
Arai marah karena alasannya kupotong terus. Dia geram karena aku tak mau mendengar penjelasannya. Kamipun bergelut sampai memporak-porandakan seisi toko karena ingin mencoba menghentikan Arai.
Kami kembali bersepeda dengan tergesa-gesa. Aku masih tak mengerti maksud Arai waktu ia memasuki pekarangan rumah Mak Cik Maryamah. Arai menyerahkan karung-karung tadi pada Mak Cik. Beliau terkaget-kaget. Lalu aku tertegun mendengar rencana Arai: dengan bahan-bahan itu dimintanya Mak Cik membuat kue dan kami yang akan menjualnya.
Tubuhku yang dari tadi kaku karena tegang mengantisipasi rencana Arai kini pelan-pelan merosot sehingga aku terduduk di balik daun pintu. Aku merunduk dan merasa malu pada diriku sendiri. Sejak itu, aku mengenal bagian paling menarik dari Arai, yaitu ia mampu melihat keindahan di balik sesuatu, keindahan yang hanya biasa orang temui di dalam mimpi-mimpi. Maka Arai adalah seorang pemimpi yang sesungguhnya, seorang pemimpi sejati.
Tuhan Tahu, Tapi Menunggu
Aku dan arai masih beruntung sempat melihat aksinya ketika masih kelas empat sekolah dasar. Ia sungguh-sungguh pria tua jempolan. A Put namanya. A Put adalah dokter gigi kampung kami, dukun gigi lebih tepatnya. Mengaku mendapat ilmunya dari peri tempayan. Ia mampu menyembuhan sakit gigi tanpa menyentuh gigi busuk itu, bahkan tanpa melihatnya.
Dalam kancah candradimuka masjid, di bawah pemerintahan trias politika itulah, kami mengenal Jimbron. Jimbron adalah seseorang yang membuat kami takjub dengan tiga macam keheranan. Pertama, kami heran karena kalau mengaji, ia selalu diantar seorang pendeta. Ternyata nasib Jimbron tak kalah mengiriskan dengan Arai. Keheranan kami yang kedua adalah Jimbron sangat menyukai kuda.
Di kampung kami tidak ada seekor pun kuda tapi Jimbron mengenal kuda seperti ia pernah melihatnya langsung. Jimbron segera menjadi pecinta kuda yang fanatik.
Aku Hanya Ingin Membuatnya Tersenyum
Setelah tamat SMP aku, Arai, dan Jimbron merantau ke Magai untuk sekolah di SMA Bukan Main. Pada saat itulah PN Timah Belitong, perusahaan di mana sebagian besar orang Melayu menggantungkan periuk belanganya, termasuk ayahku, terancam kolaps. Gelombang besar karyawan di-PHK. Mereka yang kuat tenaga dan nyalinya siang malam mencedok pasir gelas untuk mengisi tongkang. Mereka yang masih bersemangat sekolah umumnya beerja di warung mie rebus. Atau, seperti aku, Arai, dan Jimbron, menjadi kuli ngambat. Ngambat berasal dari kata menghambat, yaitu menunggu perahu nelayan yang tambat. Para penangkap ikan yang merasa martabat profesinya harus dijaga baik-baik sampai batas dermaga, tak pernah mau repot-repot memikul tangkapannya ke pasar ikan.
Setiap pukul dua pagi, kami sempoyongan memikul berbagai jenis makhluk laut yang harus tersaji di meja pualam stanplat pada pukul lima. Menjelang pukul tujuh, kami tergopoh-gopoh ke sekolah. Namun, sampai di sekolah, semua kelelahan kami serta merta lenyap, diisap oleh daya tarik laki-laki tampan ini, kepala sekolah sekaligus guru kesusastraan kami: Bapak Drs. Julian Ichsan Balia. Kreatif! Merupakan daya tarik utama kelasnya. Tak pernah mau kelihatan letih dan jemu menghadapi murid.
”What we do in life ...,” kata Pak Balia teatrikal, “…echoes in eternity…!! Setiap peristiwa di jagad raya ini adalah potongan-potongan mozaik. Terserak di sana sini, tersebar dalam rentang waktu dan ruang-ruang. Namun, perlahan-lahan ia akan bersatu membentuk sosok seperti montase Antoni Gaudi. Mozaik-mozaik itu akan membangun siapa dirimu dewasa nanti. Lalu apapun yang kau kerjakan dalam hidup ini, akan bergema dalam keabadian...
”Maka berkelanalah di atas muka bumi ini untuk menemukan mozaikmu!”
Aku dan Arai tak berkedip waktu Pak Balia memperlihatkan sebuah gambar. Pada saat itulah aku, Arai , dan Jimbron mengkristalisasi harapan agung kami dalam satu statement yang sangat ambisius: cita-cita kami adalah kami ingin sekolah ke Prancis! Ingin menginjakkan kaki di altar suci almamater Sorbonne.
Laksmi dipungut seorang Tionghoa Tongsan pemilik pabrik cincau dan ia bekerja di situ. Tapi seperti Jimbron dengan Pendeta Geo, bapak asuh Laksmi justru menumbuhkan Laksmi menjadi muslim yang taat. Dan selama bertahun-tahun, tak pernah lagi orang melihat Laksmi tersenyum. Tapi kejamnya nasib hanya menyisakan sedikit untuk Laksmi: sebuah pabrik cincau reyot, masa depan tak pasti, dan wajahnya yang selalu sembap. Jimbron bersimpati kepada Laksmi karena merasa nasib mereka sama-sama memilukan.
Setiap minggu pagi Jimbron menghambur ke pabrik cincau. Dengan senang hati, ia menjadi relawan pembantu Laksmi. Seperti biasa, Laksmi diam saja, dingin tanpa ekspresi. Jimbron ingin sekali, bagaimanapun caranya, meringankan beban laksmi meskipun hanya sekadar mencuci baskom. Bertahun-tahun sudah Jimbron berusaha menarik Laksmi dari jebakan perangkap kesedihan. Tapi Laksmi seperti orang yang sudah terpasung jiwanya.
”Aku hanya ingin membuatnya tersenyum...,” katanya berat.
Baju Safari Ayahku
Ayahku adalah seorang yang pendiam yang sesungguhnya memiliki rasa kasih sayang yang jauh berlebih dibanding pria sok ngatur yang merepet saja mulutnya. Hari pembagian raporku menjadi hari besar bagi beliau, dan selalu mengambil cuti dua hari. Hanya untuk acara yang sangat penting beliau memberikan penampilan terbaiknya. Seperti sepatu kulit buaya yang rupanya seperti tatakan kue sempret, sepeda Rally Robinson made in England-nya yang dibeli kakeknya tahun 1920. Dan yang terakhir, hanya, sekali lagi hanya, untuk acara yang sangat penting, beliau mengeluarkan busana terbaiknya: baju safari empat saku yang mempunyai nilai historis bagi keluarga kami.saat pembagian rapor, ibuku pun tak kalah repot.
Segala kesusahan beliau dalam perjalanan menuju sekolahku akan terobati. Di dalam aula itu, Pak Mustar mengurutkan dengan teliti seluruh rangking dari pertama sampai terakhir. Dan kebetulan, aku dan Arai berada di garda depan. Aku urutan ketiga, Arai kelima. Adapun Jimbron, mempersembahkan nomor kursi 78 untuk Pendeta Geo. Selesai menerima rapor, ayahku keluar dari aula dengan tenang dan dapat kutangkap keharuan sekaligus kebanggaan yang sangat besar dalam dirinya. Lalu beliau tersenyum bangga, tanpa sepatah katapun. Beliau menepuk-nepuk pundak kami, mengucapkan ”Assalamualaikum” dengan pelan sekali, lalu beranjak pulang. Mengayuh sepedanya lagi, 30 kilometer. Betapa aku mencintai laki-laki pendiam itu,. Setiap dua minggu aku bertemu dengannya, tapi setiap hari aku merindukannya.
Bioskop
Setelah SMA aku, Arai, dan Jimbron mengambil kontrakan di Magai, dekat dengan sokolah kami dan juga tempat kami mendaji kuli ngambat. Jika merapat ke Dermaga Olivir Magai maka peradaban pertama yang ditemukan orang adalah sebuah gedung bioskop yang memutar film dua kali seminggu, film India dan film Jakarta, kata orang Melayu. Gedung bioskop itu terletak persis di depan los kontrakan kami. Kami tidak berani mendekati bioskop itu karena merupakan salah satu larangan keras Pak Mustar.
Tapi saat itu, saat poster film terbaru baru saja dipasang, kami tergoda untuk menonton film Jakarta yang bergambar seorang wanita berbikini. Arai-lah yang merencanakan untuk bersembunyi diloteng bioskop sampai film diputar hingga membujuk penjual karcis serta penjaga pintu masuk yang kami kenal dengan baik. Tapi semua rencana itu tetap gagal hingga akhirnya Jimbron mendapat ide untuk menyamar orang-orang bersarung.
Akhirnya kami sukses menyamar dan masuk ke dalam bioskop tanpa dicurigai satu orang pun. Film pun diputar. Film yang tanpa kusadari inilah sesungguhnya cetak biru film Indonesia. Para produser film tak tertarik untuk memproduksi film berbobot. Tujuh belas tahun usia kami, pertama kami berdiri paling dekat dengan pengalaman seksual. Para penonton yang lain dan kami terus menikmati film itu dan hingga sampai pada momennya.
Ada tiga orang yang menghalangi pandangan kami, dan Arai menghardik marah mereka. Dan pada saat itu juga, lampu bioskop menyala. Salah satu orang itu menoleh kepada kami. Aku tak percaya apa yang kulihat di depan hidungku. Ia Pak Mustar.
Kami seperti pesakitan di ruang sidang, seperti maling tertangkap basah membongkar kandang ayam. Martabat kami diobral Pak Mustar habis-habisan. Para pengunjung bioskop mengangguk-angguk. Kami berusaha merunduk. Pak Mustar dan penjaga sekolah menggelandang kami seperti ternak. Kami ketakutan tak berdaya. Sebelum meninggalkan kami, di pintu bioskop Pak Mustar masih sempat melontarkan ancaman dengan dingin. Ancaman yang membuat kami tidak bisa tidur dua malam berikutnya, ”Ingin tahuh seperti apa neraka dunia? Lihat saja di sekolah hari senin pagi, Berandal!!
Action!!
Kabar tertangkapnya kami di gedung bioskop menyebar dengan cepat. Ternyata tukang jagung di depan bioskop curiga saat meliahat tiga orang yang memakai sarung dengan motif Melayu, bukan motif orang pulau, dan baunya bukan seperti orang laut. Pak Mustar yang sedang iseng patroli pun bernasib baik. Ia dilapori tukang jagung. Itulah yang menyebabkan kami tertangkap tadi malam.
Hari senin pagi, aku, Arai, Jimbron dibariskan terpisah. Dan hari ini tidak ada satupun siswa yang terlambat karena ingin melihat tiga pesakitan ini dieksekusi Pak Mustar. Membersihkan WC adalah hal biasa yang terjadi kalau Pak Mustar menghukum siswanya. Tapi aku mencurigai bahwa Pak Mustar akan menghukum kami lebihdari ini. Benar saja, Pak Mustar menyuruh kami berakting seperti apa yang kami tonton di bioskop malam itu.
Sorak sorai bersahut-sahutan saat kami berakting seperti para lakon di film murahan itu. Mengerikan. Sungguh aku tak sanggup melakukannya. Benar-benar memalukan. Tapi tak pernah SMA Bukan Main semeriah ini. Arai senang melirik Nurmala yang tertawa geli seperti anak kecil melihatnya.
Spiderman
Kamipun terpaksa melakukan hukuman yang diberikan Pak Mustar. Aku dan Jimbron membersihkan WC dan Arai membersihkan plafon dengan diikat tali temali sebagai pengaman. Jimbron yang itelegensia-nya tidak bisa berpikir jauh sangat menikmati hukuman ini seperti sudah jalan hidupnya saja. Sementara aku sesak menahan nafas karena bau dari WC yang sudah lama tak dipakai ini. Sesak menahan nafas, akupun tak tahan dengan ocehan Jimbron yang tak henti-hentinya tentang kuda.
Sampai pada batasnya, batu karang kesabaranku terbelah. Aku meledak.
”Diaaaaaaaaaaaaaaaaaaammmmmmmmmmmm!!!!!!”
Arai terperanjat mendengar teriakanku. Jimbron tak bergerak karena kaget pada gertakanku. Aku mengatakan bahwa akusudah muak dengan topik yang selalu Jimbron bicarakan, yaitu kuda. Aku tersadar, aku telah melukai Jimbron. Aku merasa sebagian diriku telah mengkhianati bagian diriku yang lain. Akupun membujuknya kembali. Jimbron kembali tersenyum setelah aku memberi sedikit wejangan. Dan ternyata Jimbron masih saja membicarakan tentang kuda.
Sungai Lenggang
Aku selalu berlari dan sebagai kuli ngambat aku terbiasa berlari. Berangkat dan pulang sekolahpun aku selalu berlari. Tapi siang ini, aku bersikap pesemistis karena mencoba bersikap realistis. Hawa positif dalam tubuhku menguap dibawa hasutan-hasutan pragmatis.
Di dermaga, Jimbron memesan dua buah celangan kuda berwarna hitam dan putih kepada mualim kapal. Untuk melanjutkan sekolah katanya. Tapi aku hanya bisa berkomentar sinis di dalam hati. Seyogyanya sikap buruk yang berbuah keburukan: pesimistis menimbulkan sinis, lalu iri, laludengki, lalu mungkin fitnah. Dan akibat nyata dari sikap buruk itu aku terjatuh ke urutan 75 ini. Itulah yang akan aku persembahkan untuk ayahku yang selalu dengan bangga datang ke sekolah untuk mengambil raporku.
Aku sadar sikap pesimis telah kengkhianati aku bulat-bulat. Aku kecewa, kecewa yang sakit jauh di dalam hatiku.
Aku menunggu dengan harapan tipis bahwa ayahku akan datang saat pengambilan rapor. Aku merasa bersalah kepada ayah karena beliau tetap dengan penampilan terbaiknya untuk mengambil raporku dan Arai hari ini. Beliau akan duduk di kursi nomor 75 namu beliau tetap cuti dua hari, dan selalu melakukan prosedur yang sama saat pengambilan raporku.
Arai geram kepadaku. Dia sadar aku telah menjadi orang yang pesimis. Araipun menyemangatiku lagi dengan mengatakan bahwa orang-orang seperti kami tidak punya apa-apa kecuali semangat danmimpi-mimpi. Kata-katanya itu seperti sumbu aki yang men-charge baterai di dalam tubuhku. Aku melihat harapan besar yang tersembunyi dalam hati ayahku. Akupun berlari mengejar ayahku sekita beliau sudah berada di tengah Jembatan Lenggang. Ayahku terkejut dan tersenyum saat aku sampai di sebelahnya. Kuambil alih mengayuh sepedanya, beliau duduk di belakang. Ayahku yang pendiam: ayah juara satu seluruh dunia.
Pangeran Mustika Raja Brana
Jimbron terkaget mematung saat aku mengatakan bahwa capo akan memelihara tujuh ekor kuda dua minggu lagi. Jimbron sepertiorang yang mau pingsan mendengarnya. Capo akan mendatangkan kuda dari Australia, dan ia akan menternakkan kuda-kuda itu. Setelah mendengar cerita itu, Jimbron menjadi pendiam dan jelas sekali setiap hari ia dihantui berita kuda itu.
Pada harinya, semua orang kampung tumpah ruah di dermaga untuk melihat langsung hewan yang hanya pernah mereka lihat di dalam gambar. Jimbron bolos sekolah untuk menyaksikan momen bersejarah ini. Perlahan pintu kapal terbuka. Semua orang terkejut saat sosok kuda hitam molompati pintu kapal. Kuda stallion hitam yang tinggi besar. Hampir semua kuda berwarna cokelat, terakhir berwarna putih yang sangat indah seumpama gunung salju yang megah memesona. Capo menunjuk kuda putih itu dan berseru, ”Pangeran Mustika Raja Brana!! Itu nama yang kuberikan untuknya...”
Pangeran Mustika Raja Brana dan rombongannya dibawa ke ranch Capo di pinggir kampung. Jimbron makin lama makin tak peduli dengan sekolahnya. Aku menjadi sangat prihatin dengan keadaan ini.
Tiba-tiba aku terkaget saat melihat keluar jendela. Aku melihat kuda putih itu di tunggangi Arai, Simpai Keramat. Jimbron akhirnya mendapatkan kesempatan untuk mengendarai kuda. Tapi tiba-tiba ia mamacu kudanya melewati pasar menuju pabrik cincau. Ia ingin memperlihatkannya kepada Laksmi. Jimbron memberikan perintah kepada Sang Pangeran, kuda itupun menaikkan kedua kaki depannya lalu meringkik dahsyat. Laksmi terkagum-kagum, ia memandangi Jimbron dan semakin lama senyumnya semakin lebar. Setelah bertahun-tahun akhirnya orang-orang bisa melihat senyum Laksmi kembali, senyum yang manis sekali.
When I Fall In Love
Arai selalu merasa bahagia karena dapat membahagiakan orang lain. Ia rela membanting tulang untuk membahagiakan orang, walaupun akhirnya ia tidak mendapatkan apa-apa kecuali kebahagiaan. Aku ingin sekali membahagiakan Arai, dan aku tahu caranya.
Dari sejak pertama kali masuk SMA bukan main, Arai sudah menemukan cinta pertamanya: Zakiah Nurmala binti Berahim Matarum. Kisah cinta yang memilukan, karena Nurmala tak mengacuhkaan cinta Arai. Semua cara telah ditempuh Arai, namun Nurmala tetap bergeming. Bukan Arai namanya kalau tak berjiwa positif.
Kami akhirnya menemui Bang Zaitun, Pimpinan Orkes Melayu yang hampir di setiap kampung mempunyai istri. Bang Zaitun yang humoris ini memberikan rahasia untuk mendapatkan hati wanita: sebuah gitar. Tapi Arai sama sekali tidak bisa main gitar, dan ini adalah pertamanya ia memegang gitar. Berbulan-bulan Arai belajar bermain gitar dengan satu lagu pilihan When I Fall In Love untuk dipersembahkan dihari ulang tahun Nurmala.
Tibalah harinya. Usai shalat isya kami menemani Arai ke kebun jagung menuju rumah Nurmala. Araipun melancarkan aksinya. Kali ini aksi Arai juga gagal, karena Nurmala memutar piringan hitam berlagu sama dengan apa yang dinyanyikan Arai sekeras-kerasnya. Arai pun semakin menjadi. Aku tak tega melihat Arai. Kusadarkan ia bahwa rencana manisnya telah gagal total. Sungguh mengerikan hidup ini kadang-kadang.
Ekstrapolasi Kurva yang Menanjak
Saat pembagian rapor terakhir saat SMA Negeri Bukan Main hari ini, aku kembali endudukkan ayahku di kursi nomor tiga, Arai melejit ke nomor dua, sementara Nurmala karatan di kursi nomor satu. Jimbron sedikit membaik prestasinya, dari kursi 128 menjadi 47.
Nurmala akan meninggalkan Belitong. Arai menyiapkan rencana beru untuk Nurmala. Secara lip-synch Arai akan melantunkan sebuah lagu I Can’t Stop Lonving You. Ditempat biasa kami menemani Arai yang akan beraksi. Arai bersiap di tengah lapangan, kami bersiap menyetel tape wireless. Arai pun beraksi.
Tak diduga ternyata Nurmala adalah penggemar Ray Charles. Arai beraksi semakin menjadi karena melihat Nurmala senang. Dengan kemampuan bahasa Inggris yang bagus, Arai mampu menghayati setiap kata dari lagu itu. Nurmala tak berhenti tersenyum sampai bait terakhir lagu itu.
Lagu selesai, Nurmala mundur menutup jendela. Kami membereskan tape dan aki. Arai tersenyum puas. Kamu berlalu dengan damai.
Ciputat
Kami akan berangkat ke Jakarta untuk sedikit memperbaiki nasib. Kami tidak tahu Jakarta sama sekali. Kami akan menumpang kapal BINTANG LAUT SELATAN yang mualimnya kami kenal. Ia memberitahu tujuan kami saat tiba di Jakarta. Kami disuruh menuju Jakarta Selatan, Ciputat tepatnya.
Aku terkejut saat jimbron memberikan tabungan kudanya untuk aku dan Arai. Kami tak menduga sedikitpun niat tulus Jimbron selama ini. Ketika berpisah kami diantar banyak orang, ayah memeluk aku dan Arai kuat sekali. Bu Muslimah, guru SD-ku mengatakan jangan pulang sebelum menjadi sarjana.
Kami melakukan dengan kapal selama enam hari. Selama itulah kami merasa tersiksa karena mabuk laut. Menjelang magrib kapal baru merapat. Kami turun dari kapal dan mencari angkutan untuk menuju ke Ciputat. Kami menaiki bus yang ternyata membawa kami ke Bogor tanpa kami sadari. Kami sama sekali tak tahu tentang Bogor.
Berjalan keluar dari terminal, kami takjub dengan berbagai bangunan yang ada di sana. Terutama took yang bertuliskan besar: KENTUCKY FRIED CHIKEN. Belum jauh dari terminal, kami beruntung menemukan mesjid di belakang kampus IPB. Besoknya, kami dengan mudah menemukan kamar kos di daerh Babakan Fakultas yang diisi mahasiswa-mahasiswa intelek.
Berbulan-bulan di Bogor dengan selembar ijazah SMA kami tak kunjung mendapat pekerjaan. Pada bulan kelima kami beruntung memdapat pekerjaan menjadi door to door salesman. Lalu kami mendapat pekerjaan di pabrik tali. Sayangnya pabrik harus tutup karena bangkrut. Beruntung, tetangga kos mengajak kami bekerja di kios fotokopinya di IPB.
Suatu hari ada seorang ibu-ibu pegawai Kantor Pos yang memfotokopi pengumuman penerimaan pegawi baru di Kantor Pos Bogor. Aku melamar dan diterima, sementara Arai terkendala masalah kesehatan. Aku berangkat ke Pusat Pendidikan Perhubungan Angkatan Darat di Cimahi. Sebulan aku menjalani pendidikan ala militer, lalu aku kembali ke Bogor. Saat kembali ke kamar kos aku hanya menemui sepucuk surat. Dengan sahabatnya dari pabrik tali, Arai telah berangkat ke Kalimantan. Aku kehilangan jejak Arai.
Wewenang Ilmiah
Menjadi pegawai pos adalah puncak karirku, meskipun menjadi tukang sortir yang tidk kusukai.yang menghiburku hanya jika saat menyortir menemukan surat dan wesel dari Belitong di IPB.
Tahun berikutnya aku diterima di UI dan mulai mengatur jadwal sift menyortir surat sesuai dengan kesibukan kuliah. Di sana aku kembali bertemu Zakiah Nurmala binti Berahim Matarum yang sekarang telah memakai jilbab. Nurmala menanyakan kabar Arai.
Tak terasa aku telah menyelesaikan kuliahku. Akupun mencoba mengmbil kesempatan mendapatkan beasiswa strata dua yang diberikan Uni Eropa kepada sarjana-sarjana Indonesia. Setelah melalui tes panjang, aku sampai pada wawancara akhir yang menentukan. Pewawancraku adalah seorang mantan menteri, professor yang kondang kecerdsannya. Saat melihat CV-ku ia terkejut dengan pengalaman kerjaku dan kelihatan tak berminat sama sekali.
Tapi saat melihat proposal risetku tentang transfer pricing, professor itu terkejut. Ia seperti menemukan sesuatu yang telah lama ia cari. Professor itu mengatakan bahwa risetku ini bisa memenangkan pernghargaan ilmiah. Professor itu mengatakan agar aku siap dengan risetku ini, dan aku harus mendapatkan beasiswa ini. Lalu aku di-interview oleh penyandang dana di Belgia yang menanyakan tentang penyakit sapi gila.
Aku harus menunggu sebulan untuk mengetahui 15 orang dari 150 orang yang sampai pada interview terakhir ini yang akan mendapatkan beasiswa. Lalu aku berjalan santai keluar gedung. Di depan sebuah ruangan aku tertegun, merasa mengenal suara yang sudah tidak asing bagiku. Suara itu adalah suara Arai! Kami berpelukan, dan aku sangat merindukan sepupu jauhku ini. Ia kuliah di Universitas Mulawarman, Jurusan Biologi, lulus Cum Laude.
Aku mengundurkan diri dari kantor Pos Bogor, dan pulang untuk pertama kalinya ke Belitong. Kami telah memenuhi tantangan Bu Muslimah dan Pak Mustar, yaitu baru pulang setelah jadi sarjana. Kami menitipkan alamat rumah ibuku pada secretariat pengurus beasiswa agar dapat mengirimkan hasil tes kami ke sana.
Episiklus
Saat sampai di Belitong aku dan Arai mengunjungi Jimbron yang sudah menikah dengan Laksmi yang tersenyum manis. Jimbron yang mendengar kami sudah menyelesaikan sekolah mengangkat anaknya tinggi-tinggi ke udara.
Berbulan-bulan aku dan Arai berdebar-debar menunggu keputusan penguji beasiswa. Setiap hari kami waswas menunggu surat dati Tuan Pos. Akhirnya datang juga apa yang kami tunggu-tunggu. Kami memutuskan untuk membuka surat itu selepas magrib.
Saat aku tahu aku lulus, ayahku tersenyum bangga. Aku terbelalak melihat nama universitas yang menerimaku. Namun, kami terhenyak karena dari ruang tamu, kami mendengar samara-samar suara isakan. Seumur hidup belum pernah ku liahat Arai menangis. “Aku lulus,” katanya. Ayahku menghampiri Arai dan Arai menangis sesenggukan memeluk ayahku. Ku ambil surat kelulusan Arai dan membacanya.
Hanya satu kalimat yang dapat menggambarkan bagaimana sempurnanya Tuhan telah mengatur potongan-potongan mozaik hidupku dan Arai, demikian indahnya Tuhan bertahun-tahun telah memeluk mimpi-mimpi kami, telah menyimak harapan-harapan sepi dalam hati kami, karena di kertas itu tertulis nama universitas yang menerimanya, sama dengan universitas yang menerimaku, di sana jelas tertulis:Univesite de Paris, Sorbonne, Prancis.